Das Kapital (10)
Oleh: Himawan Bayu Patriadi, PhD
Seusai baca esai saya serial awal, Das Kapital (1) [ Ngopibareng.id, 10 Mei 2025], seorang kolega dosen berkomentar tentang kemungkinan munculnya “neo-Das Kapital”. Dengan komentarnya ini, secara implisit, ia berharap adanya elaborasi tentang relevansi pemikiran Karl Marx terhadap permasalahan kekinian. Maklum, meski Das Kapital merupakan hasil dari penelitian extensif Karl Marx, sekaligus menyediakan analisa tajam terhadap sosok kapitalisme; penelitian dilakukannya pada abad XIX, lebih dari satu setengah abad yang lalu.
Dalam rentang waktu ini, boleh jadi kapitalisme sudah berkembang, dan sangat mungkin karakternya juga berubah. Walaupun demikian, sekali lagi, pemikiran Karl Marx–termasuk yang tertuang dalam Das Kapital–masih mempunyai relevansi; setidaknya dalam ranah paradigma teoritis. Seperti pernah ditekankan Jayati Gosh (2017): “It does indeed still provide a useful framework for understanding the essential features of capitalism, no matter how different its contemporary manifestations may be”.
Sejauh ini, secara spesifik, saya pribadi belum pernah menemukan istilah neo-Das Kapital. Tapi, terdapat istilah lain yang dalam teori Sosial sering menjadi rujukan akademis, yakni neo-Marxist. Variasi teori neo-Marxist ini, esensinya, adalah revisi pemikiran Karl Marx. Secara substansif, teori ini merupakan hasil penyesuaian (adjustment), pengembangan (development), atau pengkayaan (enrichment) dari teori Marx. Namun, akarnya tetap menghunjam pada pemikiran Marx.
Semua proses ini, akhirnya, menumbuhkan pohon teori Marxian. Dikarenakan punya akar pemikiran yang sama, tak heran jika setiap cabangnya mengandung beberapa elemen yang serupa. Stephen Hobden dan Richard Wyn Jones (2020), mensinyalir empat elemen dasar, yang menjadi ciri teori neo-Marxist. Pertama, analisanya yang bersifat totalitas (totality). Asumsinya, mengingat dunia sosial bersifat kompleks, maka setiap fenomenanya harus dikaji secara menyeluruh (it should be studied as a whole). Implikasinya, dalam istilah kontemporer, analisanya memerlukan pendekatan inter-disipliner. Seperti terlihat dalam setiap karya Karl Marx, pendekatan lintas disiplin ilmu ini selalu menjadi salah satu ciri kunci. Analisanya dalam Das Kapital, misalnya, Marx menggabungkan kajian ekonomi, politik, filsafat, antropologi, dengan menggunakan pendekatan historis–sosiologis.
Kedua, adopsi the materialist conception of history. Asumsinya, motor penggerak utama perubahan sejarah adalah pergeseran dalam basis ekonomi. Dalam karyanya, A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), Karl Marx menegaskan: “Karakter produksi dalam ranah material mengkondisikan proses umum kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Perubahan dalam fondasi ekonomi, cepat atau lambat, akan membawa transformasi pada keseluruhan suprastrutur yang jauh lebih luas (The mode of production of material life conditions the general process of social, political and intellectual life. .. Then begins an era of social revolution. The changes in the economic foundation lead sooner or later to the transformation of the whole immense superstructure). Elaborasinya, basis ekonomi kapitalisme selalu ditentukan oleh dinamika interaksi antara alat-alat produksi (means of production) dengan hubungan produksi (relations of production). Jika means of production berubah, misalnya karena dipicu kemajuan teknologi, maka revolusi sosial-ekonomi tak dapat dihindari. Pasalnya, relations of productions yang lama telah terguncang karena usang; sehingga pembaharuan diperlukan guna mengakomodir konfigurasi means of production yang baru.
The Materialist Conception of History merupakan refleksi dari salah satu falsafah Karl Marx yang hakiki. Pasalnya, dengan konsep ini ia mengritik tajam falsafah Dialectical Idealism dari Georg Wilhelm Friedrich Hegel, sosok yang diakuinya sempat menginspirasinya. Menurut Hegel, ide atau gagasan, yang sering disebutnya sebagai “the Spirit”; merupakan penggerak sejarah. Prosesnya, melalui dialektika antara theses, anti-theses, dan pembentukan syntheses; guna mencapai tingkat kesadaran (consciousness) yang lebih tinggi. Postulat ini secara diametral berbeda dengan pandangan Marx. Seperti ditegaskan sendiri oleh Marx:
“Dalam pandangan Hegel, proses kehidupan otak manusia, yakni proses berpikir, yang ber nama “Ide”, adalah pembentuk dunia nyata. Sebaliknya, bagi saya, penjelasan yang baik [bagi perubahan sejarah] tidak lain adalah [justru] dunia material yang direfleksikan oleh pikiran manusia, dan [kemudian] diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk gagasan (To Hegel, the life process of the human brain, i.e. the process of thinking, which, under the name of “the Idea”; .. is the demiurgos of the real world. With me, on the contrary, the ideal is nothing else than the material world reflected by the human mind, and translated into forms of thought)”. [ Capital, 1887, Vol.1:14]. Bahkan, Marx menilai postulat Hegel ini bukan hanya sangat abstrak, tapi juga tidak empirik. Dengan tegas ia menandaskan: “Bagi Hegel, gagasan tersebut berdiri di atas kepalanya. Pandangan seperti itu harus dibalik kembali (It is standing on its head. It must be turned right side up again)”. [ Capital, 1887, Vol.1:15]
Ketiga, analisa kelas. Perjuangan kelas merupakan ciri pokok yang lain dari pemikiran Karl Marx, khususnya dalam melihat gerak sejarah. Bersama sohibnya, Friederich Engels, Marx menegaskan: “Sejarah seluruh masyarakat yang ada hingga saat ini[pada dasarnya] adalah sejarah perjuangan kelas (The History of all hitherto existing society is the history of class struggles)” [ Manifesto of Communist Party, 1848, Chapter 1).
Dalam Das Kapital, pergulatan antar kelas ini digambarkan Marx melalui elaborasinya tentang interaksi antara dua kelas ekonomi. Di satu sisi, terdapat kelas Capitalists sebagai pemilik alat-alat produksi; sedangkan di sisi lain, ada kaum buruh yang hanya punya tenaga untuk bekerja. Kelas kapitalis dipandang sebagai penindas (the oppressor) karena melalui sistem produksi telah mengeksploaitasi kaum buruh (the oppressed). Dalam Manisfesto of Communist Party, Marx dan Engels menggunakan istilah lain untuk kedua kelas yang antagonistik ini, yakni Bourgeoisie dan Proletariat.
Pandangan sejarah di atas disulam Karl Marx (bersama Engels) dari benang analisanya terhadap kapitalisme. Dalam sistem produksi kapitalis ada eksploitasi yang tak terdeteksi. Pasalnya, tidak semua hasil kerja buruh yang melekat dalam setiap produk diungkap. Classical Political Economy juga gagal menyingkap. Penyebabnya, karena terpaku pada proses kehidupan komersial dan industri, berakibat analisanya menjadi kurang jeli. Sepakat dengan hasil analisa Marx, Friedrich Engels menegaskan kembali kritik sohibnya ini terhadap Classical Political Economy dengan kata-katanya sendiri:
“[Analisa] Ekonomi-politik [klasik] tak pernah melampaui konsep keuntungan dan sewa yang diterima, tidak pernah meneliti bagian produk yang tidak dibayar ini (Marx menyebutnya sebagai surplus-produk) dalam kesatuan [proses produksi] secara keseluruhan, dan karena itu tidak pernah sampai pada pemahaman yang jelas, baik tentang asal-usul dan sifatnya, atau tentang hukum-hukum yang mengatur lebih lanjut distribusi nilainya (Political Economy never went beyond the received notions of profits and rents, never examined this unpaid part of the product (called by Marx surplus-product) in its integrity as a whole, and therefore never arrived at a clear comprehension, either of its origin and nature, or of the laws that regulate the subsequent distribution of its value)”. [Friedrich Engels, “Preface to the English Edition”, Capital, 1886]. Ungkapan ini menggarisbawahi argumennya bersama Marx, bahwa proses sejarah dipantik oleh perjuangan kelas, sebagai konsekuensi logis dari eksploitasi sistemik. Selain itu, postulat yang dikenal sebagai historical materialism ini, juga punya landasan empirik.
Elemen ke empat, adalah misi emansipatoris. Elemen ini bertumpu pada argumen filosofis yang berakar pada kritik Karl Marx terhadap the German ideology, khususnya pemikiran Ludwig Feuerbach. Dalam manuskripnya, bertajuk Thesis on Feuerbach, yang ditulisnya tahun 1845; Marx menegaskan: “Kelemahan utama dari semua aliran materialisme hingga saat ini–termasuk materialisme Feuerbach–adalah benda, realitas, keindrawian, praktik, hanya dipahami dalam bentuk obyek atau kontemplasi, bukan sebagai aktivitas manusia yang indrawi, praktik, bukan subyektif. [Akibatnya], filsuf hanyalah menginterpretasikan dunia [sosial]; padahal intinya adalah bagaimana mengubahnya (The chief defect of all hitherto existing materialism–that of Feuerbach included–is that the thing, reality, sensuousness, is conceived only in the form of the object or of contemplation, but not sensuous human activity, practice, not subjectively. Hence he does not grasp the significance of “revolutionary”, of “practical-critical”, activity. [As such] the philosophers have only interpreted the [social] world; [but] the point is to change it)” [Friedrich Engels, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy, 1888: Appendix]. Kritik filosofis Marx ini, menegaskan pandangannya bahwa ilmu pengetahuan tak selayaknya bersikap netral, harus praksis, sekaligus bersifat emansipatoris. Berangkat dari konsep historical materialism-nya, kala menghadapi sistem yang ekploitatif, secara imperatif misi profetik ilmu pengetahuan adalah membela kaum yang tertindas.
Dari elaborasi di atas, setidaknya ada tiga catatan yang bisa dikemukakan. Pertama, ke empat elemen teori neo-Marxist diatas merupakan hasil identifikasi. Akibatnya, adalah wajar jika ada perbedaan pendapat di antara para pengamat. Tapi, secara umum nyaris bisa dipastikan bahwa setiap teori neo-Marxist memuat semua, atau setidaknya sebagian, dari empat elemen kunci tersebut. Kedua, munculnya berbagai teori neo-Marxist menyiratkan berlanjutnya relevansi pemikiran Karl Marx, setidaknya sebagian asumsi dasar teoritik-nya, guna menganalisa fenomena kekinian. Pasalnya, pembaharuan teori Sosial, sejatinya adalah refleksi dari perkembangan fenomena sosial itu sendiri.
Terakhir, Marx mengklaim bahwa perumusan teorinya berdasarkan hasil penelitian ilmiah, dengan didukung data empirik. Bahkan, analisa kelas beserta sikap kritisnya terhadap kelas penguasa; juga tak dilandasi kebencian pada pemegang kuasa. Dalam manuskripnya, A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), ia sempat menegaskan: “Studi-studi saya di bidang Ekonomi-Politik, apapun penilaian orang dan betapapun jauh dari prasangka terhadap kelas penguasa, merupakan hasil penelitian serius selama bertahun-tahun (My studies in the sphere of political economy is intended only to show that my views, however they may be judged and however little the coincide with the interested prejudice of the ruling class, are the result conscientious investigation lasting many years)”. Tapi, Marx sepenuhnya paham; bahwa dunia keilmuan kadang juga kejam. Apalagi, kalau sikap baperan sering mengkontaminasi perbedaan pandangan. “Pintu masuk dunia sains sama dengan pintu masuk neraka (At the entrance to science [is the same as] the entrance to hell)”, lanjutnya. Tak berhenti di sini, dengan mengutip bait puisi naratif Dante Alighieri, Divina Commedia (The Divide Comedy); dengan lantang Marx mengingatkan: “Qui se convien lasciare ogni sospetto; Ogni viltà convien che qui sia morta” (Di sini, semua ketidakpercayaan harus ditinggalkan. Di sini pula, setiap pikiran pengecut harus dimusnahkan). Wallahua’alam. (Bersambung)
*) Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember.
Advertisement