Das Kapital (8)
Oleh: Himawan Bayu Patriadi, PhD
Perubahan zaman tak serta merta menghapus tragedi kemanusiaan. Memasuki paruh akhir abad XV, awal dari the ages of discovery, dunia menapaki sejarah baru. Ekspedisi negara-negara Eropa, yang menemukan jalur laut (sea routes) dimana sebelumnya tak terbayangkan, dan juga benua yang masih perawan, kemudian didukung perkembangan teknologi; telah memfasilitasi dunia untuk bersolek diri.
Tapi, peradaban dunia masih tetap tersaput kelam. Pasalnya, the discoveries tak mengubah trilogi atribusi zaman–baik akumulasi, revolusi, dan kapitalisme. Walhasil, tragedi kemanusiaan tetap mendera, menandai wajah bopeng dunia. Dalam Das Kapital, Karl Marx menandaskan: “Penemuan emas dan perak di Amerika, pemusnahan, perbudakan, dan penguburan di kawasan pertambangan [yang dihuni] penduduk asli, awal penaklukan dan penjarahan Hindia Timur [Kepulauan Nusantara], pengubahan Afrika menjadi tempat perburuan kaum kulit hitam untuk keperluan komersial [justru] menandai fajar cerah era produksi kapitalis (The discovery of gold and silver in America, the extirpation, enslavement in mines of aboriginal population, the beginning of conquest and looting of East Indies, the turning of Africa into a warren for the commercial hunting of black-skins, signalized the rosy down of the era of capitalist production)" [ Capital, Vol.1, 1887:531]. Jadi, the ages of discovery hanyalah sekedar mempercepat transformasi the primitive accumulation menuju the capitalist accumulation. Berkat the ages of discovery pula kapitalisme industri bisa terwujud dengan cepat, tapi dengan sifat eksploitatifnya yang tetap melekat.
Meski menyinggung ekspedisi bangsa Eropa yang menyibak kabut bagi jalan the discoveries; fokus kajian utama Das Kapital adalah tentang perkembangan sosok kapitalisme. Marx memang sempat menyinggung salah satu bentuk globalisasi, yakni kolonialisasi. Elaborasinya ini sempat mengundang kebimbangan tentang level of analysis dari Das Kapital. Permasalahan level of analysis memang merupakan salah satu isu sentral dalam penelitian ilmu Sosial. Pasalnya, dengan kompleksitas fenomena sosial, peneliti dituntut jeli untuk menentukan fokus penelitiannya. Seperti ditegaskan J. David Singer (1961), peneliti sosial harus senantiasa berupaya “to focus upon the parts or upon the whole, the components or the system. For example, choose between the flowers or the garden, the trees or the forest, legislators or legislative”. Argumennya, kejelasan fokus penelitian akan menentukan “accuracy of description, validity of explanation, and reliable prediction”. Dalam konteks Das Kapital, mengenali level of analysis-nya adalah sebuah urgensi. Selain membantu dalam memahami validity of explanation-nya, pengenalan ini juga berguna untuk mengidentifikasi posisi akademik Karl Marx dalam kontinum perkembangan teori-teori Marxian yang dikembangkan oleh para pemikir penerusnya.
Dalam Das kapital, Karl Marx menggunakan level of analysis nasional/negara (national state). Pasalnya, fokus utamanya mengkaji karakter kapitalisme di beberapa negara Eropa Barat. Jika di dalamnya terdapat ilustrasi tentang salah satu manifestasi globalisasi, elaborasi ini hanyalah sekedar bagian dari eksplanasinya tentang akumulasi kapital, yang pada akhirnya memicu perang dagang antar negara Eropa. Marx menggambarkannya: “Berbagai proses menarik ini adalah momentum utama akumulasi primitif. Di balik semua itu, perang dagang antar bangsa Eropa dimulai, dengan dunia sebagai panggungnya (These idyllic proceedings are the chief momenta of primitive accumulation. On their heels threads the commercial war of the European nations, with the globe for a theatre). [ Capital, Vol.1, 1887:531]. Dengan fokus kajiannya ini, Marx dinilai telah berhasil menjalankan misinya, khususnya dalam mengupas karakter sosok kapitalisme. Robert L. Heilbroner (1999), sejarahwan pemikiran ekonomi asal Amerika, mengatakan: “What Marx has set his goal is to discover the intrinsic tendencies of the capitalist system … [and] he can prove that the best of all possible capitalism is nonetheless headed for disaster”.
Memang tak bisa dipungkiri, industrialisasi modern telah mengubah ritme kerja para kapitalis. Cakupan kerjanya meluas, bukan hanya bersifat lokal atau nasional, tapi juga merambah tingkat global. Tak pelak, sarana eksploitasi-pun semakin bervariasi. Wujudnya, berupa kombinasi sistemik antara kolonialisasi, hutang antar negara, pajak besar, dan perdagangan yang protektif. Dalam prosesnya, jejak kelam peran negara tetap tajam menghunjam. Marx menegaskan: “Berbagai cara [eksploitasi] ini sebagian bersifat brutal, misalnya, dalam bentuk penjajahan. Namun, semua cara memanfaatkan kekuatan negara, satu bentuk kekuatan masyarakat yang tersentralisir dan terorganisir, guna mempercepat .. proses transformasi sistem feudal ke model kapitalis, serta untuk memperpendek [proses] transisinya (These methods in part on brute. e.g. the colonial system. But they all employ the power of the state, the concentrated and organized force of society, to hasten … the process of transformation of the feudal system into the capitalist mode, and to shorten the transition)”. [ Capital, Vol.1, 1887:531-532].
Indonesia menjadi salah satu ilustrasinya. Karl Marx memang tak pernah berkunjung ke Indonesia. Tapi, studi kepustakaan yang dilakukannya di British library, London; telah menghantar imaginasinya mengelilingi dunia. Data empirik tentang Indonesia ia petik dari buku karya Thomas Stamford Raffles, The History of Java (1817), yang tersimpan dalam koleksi the British library. Nukilannya, sepenggal contoh nyata kekejaman para kapitalis dengan meminjam tangan negara. Dalam analisanya di Das Kapital, Marx mengungkapkan: “Sejarah pemerintahan kolonial Belanda–dan Belanda adalah negara kapitalis terkemuka di abad ke 17–‘adalah salah satu rangkaian hubungan pengkhianatan, penyuapan, pembantaian, dan kekejaman yang paling luar biasa’. Tak ada yang lebih khas daripada sistem mereka untuk mencuri manusia, guna mendapatkan budak bagi Jawa. Para pencuri manusia ini memang telah dilatih untuk tujuan ini (The history of the colonial administration of Holland–and Holland was the head of capitalistic nation of the 17th century–‘is one of the most extraordinary relations of treachery, bribery, massacre, and meanness’. Nothing is more characteristic than their system of stealing men, to get slaves for Java. The men stealers were trained for this purpose). [ Capital, Vol.1, 1887:532]. Praktik kekejaman ini, sekali lagi, menunjukkan bagaimana kapitalisme melalui salah instrumennya, yakni kolonisasi, telah membuat harkat manusia tak berharga. Manusia dipandang tak lebih dari sebuah komuditas atau benda. Sambil mengutip pendapat dari E.G. Wakefield, Marx sekali lagi menggarisbawahi bahwa “kapital bukanlah sebuah benda, melainkan sebuah hubungan sosial antar-manusia, [tapi] dibangun demi tujuan kebendaan (Capital is not a thing, but a social relation between persons, established by the instrumentally of things)”. [ Capital, Vol.1, 1887:541].
Yang menyedihkan, di Nusantara, percurian manusia guna pemenuhan kepentingan perdagangan kapitalis Belanda kala itu justru melibatkan bangsa kita sendiri. Melalui Das Kapital, Karl Marx menyingkap tragedi ini. Peristiwanya antara lain terjadi di Sulawesi. “Pencuri manusia, penterjemah, dan penjualnya, adalah pelaku utama dalam perdagangan [manusia] ini, dengan para pangeran pribumi sebagai penjual utama. Para pemuda yang dicuri, dijebloskan ke penjara rahasia di Sulawesi, sampai mereka siap dikirim ke kapal-kapal pengangkut budak (The thief, the interpreter, and the seller, were chief in this trade, native princes the chief sellers. The young people stolen, were thrown into the secret dungeons of Celebes, until they were ready for sending to the slave-ship)”, tukasnya. Bahkan, dari sisi kemanusiaan, kisah pilu ini digambarkannya sebagai salah satu bentuk perlakuan yang paling keji. Dengan mengutip laporan resmi, ia menambahkan: “Kota Makassar ini, misalnya, penuh dengan penjara rahasia, yang satu lebih mengerikan dibandingkan yang lain, penuh dengan orang-orang yang malang, korban keserakahan dan tirani, yang dibelenggu, dan dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka (This one town of Macassar, e.g., is full of secret prisons, one more horrible than other, crammed with unfortunates, victims of greed and tyranny fettered in chain, forcibly torn from their families)”. [ Capital, Vol.1, 1887:541].
Selain bersifat predatorik, dampak keserakahan kapitalisme juga sangat destruktif. Salah satu jejak hitam kekejaman kapitalisme yang diadopsi kolonial Belanda juga teridentifikasi di tempat yang tak jauh dari tempat kita berdiri: Banyuwangi. Dalam Das Kapital, Karl Marx mengelaborasinya sebagai bagian dari analisanya terhadap sisi gelap perdagangan kapitalistik. Dengan nada sarkastik ia menarasikannya, dilengkapi dengan penyajian data angka: “Di mana mereka [para kapitalis] berpijak, kehancuran dan depopulasi selalu mengikuti. [Contohnya] Banyuwangi, sebuah propinsi di Jawa, pada tahun 1750 penduduknya berjumlah lebih dari 80.000 orang, di tahun 1811 jumlahnya menurun drastis menjadi hanya 18.000 orang. Satu bentuk perdagangan yang manis! (whenever they set foot, devastation and depopulation followed. Banjuwangi, a province of Java, in 1750 numbered 80,000 inhabitants, in 1811 only 18,000. Sweet commerce!)”. [ Capital, Vol.1,1887:541]. Ilustrasi berbagai kekejaman dari penjajahan rejim kapitalistik ini mengingatkan pada sosok Vladimir Lenin (1917), yang secara lantang mengemukakan argumennya, bahwa “Imperialism, [is] the highest stage of capitalism!”.
Jejak hitam penjajahan yang menghardik rasa kemanusiaan, tak pelak mengusik pikir akan makna kemerdekaan. Yang kita butuhkan, bukan kemerdekaan yang hanya riuh dalam perayaan, tapi yang juga sibuk dengan agenda membebaskan. Melupakan sejarah kapitalisme nan kelam bisa berbuah kutukan. Melalui bukunya, The Life of Reason (1905); George Santayana telah memperingatkan: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it!”. Wallahua’lam … (Bersambung).
*) Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember.
Advertisement