Tali Jagat, Membaca Gegeran di NU
Rupanya tali yang mengikat bumi atau jagat dalam lambang NU sedang longgar. Bahkan nyaris lepas. Ikatannya tak lagi mampu membuat bumi itu tak bergoyang. Yang bisa bikin anggotanya tergoncang.
Akankah goncangannya makin keras? Atau ikatannya bisa kembali ketat sehingga membuat bumi dalam tali itu tak mrucut alias lepas? Banyak pihak susah meramal apa yang akan terjadi ke depan. Tapi banyak yang yakin tali itu akan erat lagi dalam melindungi jagat.
Menurut laporan Majalah Tempo, goncangan ini terjadi karena tali itu dipakai tarik tambang. Tambang dalam arti lahan batubara. Setelah pemerintah memberi konsesi tambang batu bara kepada organisasi kemasyarakatan di Indonesia. Memicu tarik tambang antar elit NU.
Tapi apakah betul masalah tambang itu sebagai pemicunya? Sebab, poros konflik yang kini sedang terjadi ini agak unik. Antara Ketua Umum dengan Sekretaris Jenderal. Yang kemudian melibatkan Rais Aam. Jadi antara dewan pengarah dengan dewan pelaksana organisasi.
Seperti banyak orang tahu, konflik di elit NU ini mengemuka setelah Rais Aam PBNU KH Miftahul Achyar memakzulkan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Setelah itu, Ketum PBNU merotasi posisi Sekjen Saifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gudfan Arif Ghofur.
Saya agak sanksi kalau gegeran di PBNU ini karena kutukan konsesi tambang. Itu terlalu kecil untuk menjadi penyebab. Kalau ya, soal tambang itu hanyalah pemantik. Yang lebih masuk akal adalah goncangan akibat perubahan. Baik di internal dan eksternal organisasi.
Pimpinan Ponpes Darul Ulum Jombang KH Zuem Widjaya Asโad ternyata punya pendapat yang sama. Ia malah khawatir NU bermasalah sejak Gus Ipul menjadi anggota Kabinet Merah Putih. Apalagi ia dalam koordinasi Menko Kesejahteraan Sosial A Muhaimin Iskandar. Poros lain di NU.
Menurutnya, sejak itu, benih-benih ketegangan antara Ketum dan Sekjen tumbuh. โโDalam organisasi besar, garis komando dan loyalitas bukan sekadar soal administrasi. Ia adalah anatomi kekuasaan yang menentukan kesehatan tubuh jamiyah,โโ tulisnya.
Seperti saya, Gus Zuโem juga berkawan dengan Gus Yahya dan Gus Ipul yang sekarang sedang gegeran. Jadi sama-sama mengenal secara personal keduanya. Bedanya, Gus Zuem bagian dari darah biru NU. Saya sebatas berteman dengan para pemilik darah biru.
Sudah banyak yang tahu jika konflik antar elit NU bukanlah fenomena baru. Itu terjadi tidak hanya antar kawan seperti sekarang. Tapi bisa juga antar paman dan keponakan. Seperti saat terjadi konflik besar antara Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan KH Yusuf Hasyim yang juga pamannya.
Juga konflik antara Ketum KH Idham Chalid dengan para kiai paska wafatnya Rais Aam. Yang kemudian selesai melalui Muktamar NU di Situbondo 1984. Yang melahirkan kepemimpinan generasi baru dibawah pimpinan Gus Dur. Dengan tema besar NU kembali ke Khittah 1926.
Goncangan kepemimpinan secara berkala telah terjadi di NU. Seringkali menguat menjelang muktamar, masa transisi kepemimpinan. Atau saat organisasi memasuki fase perubahan struktural yang siginifikan. Karena itu, konflik ini harus dipahami bukan sekadar karena rebutan tambang. Tapi bagian dari perubahan sosial.
Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU bukan hanya institusi keagamaan. Tapi juga aktor sosial-politik yang memiliki pengaruh besar. Seiring meningkatnya peran NU dalam pembangunan nasional โdari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomiโ organisasi ini mengalami proses โmodernisasi kelembagaanโ.
Modernisasi ini memaksa NU beradaptasi dengan tuntutan tata kelola yang lebih profesional. Juga relasi yang lebih kompleks dengan negara dan pasar. Semua ini membutuhkan koordinasi yang makin intensif dalam organisasi yang makin besar.
Setiap perubahan struktur, tentu selalu memunculkan ketegangan. Adaptasi institusi membutuhkan redefinisi peran, reposisi aktor, dan penyesuaian norma. Semua itu membuka ruang kompetisi antar-elit.
Apalagi NU sebagai ormas Islam terbesar harus selalu bersinggungan dengan kekuasaan. Pergeseran kekuasaan nasional, mau tak mau akan berpengaruh terhadap internal NU. Konflik muncul ketika kelompok-kelompok dalam satu struktur saling bersaing untuk menguasai โotoritasโ.
Sampeyan semua tahu, otoritas di NU itu tidak hanya bersifat organisatoris atau jabatan struktural. Tapi juga simbolik dan kultural. Ia beririsan dengan legitimasi keulamaan. Juga kedekatan dengan para kiai sepuh, akses terhadap jaringan pesantren dan hubungan dengan pusat kekuasaan.
Ini memperkuat hipotesis bahwa soal tambang hanyalah pemantik. Eksekusi pengelolaan akses ekonomi itu memicu konflik antara Gus Yahya dan Gus Ipul yang melibatkan Rais Aam dan Bendahara Umum. Yang sumber konfliknya inline dengan pergeseran kekuasaan politik dan ekonomi di tingkat nasional.
Ketika NU masuk ke peran ekonomi politik, nilai strategis jabatan dan akses terhadap sumberdaya meningkat. Konsekuensinya, kompetisi antar elit pun menjadi mengeras. Jadi, konflik ini bukan soal personal. Ini adalah benturan kepentingan dalam memperebutkan ruang pengaruh, kontrol agenda, dan arah perubahan organisasi.
NU sebagai organisasi yang telah berumur lebih seabad, pasti selalu ada ketegangan antara dorongan perubahan dan dorongan bertahan terhadap nilai lama. Istilahnya Karl Polanyi, dinamika โโdouble movementโโ dalam perubahan sosial. NU kini sedang dalam ketegangan antara dua arus besar itu.
Di satu sisi ada arus modernisasi kelembagaan: profesionalisasi organisasi, digitalisasi, keterlibatan dalam ekonomi nasional, serta relasi intensif dengan negara. Di sisi lain ada arus dorongan mempertahankan otoritas kiai, model kepemimpinan berbasis karisma, dan cara kerja organisasi yang paternalistik berbasis kultur pesantren.
Diskursus tentang keabsahan pemakzulan Ketum oleh Rais Aam PBNU menggambarkan ketegangan ini. Di satu pihak bersikukuh bahwa Ketum PBNU hanya bisa dimakzulkan melalui muktamar, di pihak lain yakin Rais Aam sebagai personifikasi otoritas kiai punya hak untuk itu.
Lantas bagaimana akhir dari ketegangan antara elit NU ini? Banyak yang berharap terhadap para kiai sepuh untuk turun gunung. Dan itu sudah terjadi. Para kiai sepuh telah bertemu di Ponpes Ploso Kediri. Melahirkan risalah penyelesaian ala Forum Kiai Sepuh NU.
Saya termasuk yang berharap turun gunungnya para kiai sepuh ini bisa mengakhiri konflik elit NU. Kalau dulu ada sebutan kiai langitan sebagai pemimpin arah, harapan kini ada di forum kiai sepuh. Para kiai sepuh NU mengajukan cara islah untuk menyelesaikannya.
Tentu ini jalan tengah. Islah sebelum mekanisme resolusi konflik secara organisatoris diambil: Muktamar NU. Islah adalah bahasa Arab yang berarti perdamaian dan perbaikan. Islah bukan sekadar perdamaian, tapi upaya menjaga harmoni dalam menyelesaikan sengketa alias konflik.
Pasti banyak warga nahdliyin yang berharap para pemimpin yang sedang bersitegang mau mengikuti cara resolusi konflik ala Kiai Sepuh ini. Apalagi saya yang secara personal telah berkawan lama dengan Gus Yahya dan Gus Ipul. Sejak kami sama-sama mahasiswa.
Ayolah Gus, islah. Biar bisa ngopibareng, makan bareng, dan pergi bareng. Itu lebih asyik. Koyok jaman sakmono!
Advertisement