Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadhan, Tradisi Menghormati Mendiang Orang Tua
Ziarah kubur menjelang puasa Ramadhan sudah mulai ramai dan terlihat di beberapa makam di Jakarta. Mereka datang untuk berdoa buat orang tua dan keluarga yang sudah meninggal, serta untuk membersihkan makam.
Tradisi ziarah kubur tidak hanya sekadar berkunjung ke makam lalu mendoakan orang yang telah meninggal dunia saja. Akan tetapi ada beberapa hikmah yang dapat diperoleh dari kegiatan ziarah kubur.
Ziarah kubur mengingatkan manusia dengan kematian dan kehidupan di akhirat. Hikmah ziarah kubur dapat mengingatkan manusia akan adanya hari kematian dan kehidupan selanjutnya di akhirat. Hal ini dapat mendorong manusia untuk semakin rajin beribadah, berbuat kebajikan, dan beramal saleh.
Ketua MUI Bidang Fatwa Arorun Niam Sholeh, mengatakan tidak ada yang salah dalam ziarah. Ia merujuk dalil terkait ziarah kubur dalam hadits dari Buraidah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang ingin berziarah maka lakukanlah dan jangan kalian mengatakan 'hujran' (ucapan-ucapan batil)." (HR.Muslim).
Rasulullah SAW pun pernah menyampaikan bahwa berziarah kubur dapat mengingatkan manusia dengan akhirat. Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Buraidah RA bahwa Rasulullah pernah bersabda: βAku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi makam ibu. Maka berziarahlah karena berziarah kubur itu dapat mengingatkan dengan akhiratβ (HR. Tirmidzi).
βRujukan yang lain adalah hadis Rasulullah yang diriwayatkan HR Abu Hurairah, bahwa Rasulullah mengatakan barang siapa berziarah ke makam kedua orang tua atau salah satunya setiap hari Jumat, maka Allah mengampuni dosa-dosanya dan ia tercatat sebagai anak yang taat dan berbakti kepada kedua orang tua,β kata Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Kamis 20 Februari 2025.
Dari segi sosial ziarah kubur juga memberi manfaat bagi pedagang bunga, pembersih makam serta penuntun doa bagi peziarah yang membutuhkan. Oleh karena itu momen tradisi berziarah kubur ini menjadi peluang bagi pembersih makam, juru doa serta pedagang bunga untuk mendulang uang dari para peziarah.
Salah satunya adalah Sumiani, perempuan berusia 45 tahun asal Tangerang ini terlihat melenggang ke sana-ke mari sambil menenteng sapu lidi dan pengki, menghampiri para peziarah yang membutuhkan jasanya untuk bersih-bersih di TPU Karet Bivak menjelang puasa Ramadhan.
"Kalau menjelang puasa seperti sekarang jumlahnya bisa mencapai 250 orang, terkadang sampai rebutan pengunjung," kata Sumiani.
Sudah sekitar satu pekan lalu, katanya, TPU Karet Bivak ramai peziarah. Jika ada dalam satu tahun waktu yang paling merasa membuatnya beruntung, di bulan-bulan menjelang Ramadhan memang pilihannya.
"Saya tiap hari di sini. ngorek-ngorek. Kalau ada yang ziarah saya bantu ngorek. Nyapu-nyapu, bersih-bersih dibayar sama ahli waris yang dateng," ujarnya .
Selama dua tahun menjadi jasa bersih-bersih makam, dalam arti hanya mengandalkan uang dari peziarah, penghasilannya tak seberapa dibanding jelang Ramadhan seperti sekarang. Pasalnya, di hari-hari biasa, tak seberapa penghasilannya dalam sehari. "Sebelum Ramadhan sepi. Biasa dapet kadang-kadang Rp 50 ribu, kadang-kadang Rp 30 ribu. Saikhlase yang ngasih," kata Sum.
Sementara saat jelang Ramadhan seperti saat ini, ia mengaku penghasilannya meningkat empat kali lipat dari hari biasa. Dalam sehari, Partini menyebut bahwa penghasilannya bisa hingga Rp 200 ribu lebih. "Kalau sekarang ya ngasih tetap Rp 4-5 ribu. Sehari biasanya Rp 200 ribu lebih. Sekarang aja udah Rp 200 ribu," ungkapnya gembira.
Menurut perkiraannya, pengunjung yang akan berziarah ke TPU Karet Bivak akan terus ramai hingga sehari menjelang puasa 28 Februari 2025. Karena 1 Maret sudah mulai puasa.
Selain di TPU Karet Bivak semarak tradisi ziarah kubur juga terlihat di TPU Tanah Kusir di kawasan Jalan Raya Bintaro, Kebayoran Jakarta Selatan. Ada yang menyebut TPU Tanah Kusir makam orang elit. Makam Proklamator Kemerdekaan dan Wapres ke-1 RI Moh Hatta juga dimakamkan di Tanah Kusir.
Pedagang bunga kagetan juga bemunculan, mereka menjajakan bunga di pinggir pagar jalan menuju makam, mengakibatkan lalu lintas padat merayap.
Satu bunga terdiri melati, mawar dan bunga jenanga yang hari bisa Rp25 ribu, memasuki bulan Ramadhan naik 100 persen menjadi 50 ribu per bungkus. Tetapi tidak semua peziarah membawa bunga untuk ditaburkan di atas pusara. "Kami ke makam bersama adek-adek untuk berdoa sambil melepas rindu ,pada ibu dan bapak," kata Farida, perempuan usia 45 tahun. "Ibu meninggal dunia ketika saya berumur 23 tahun, dua tahun kemudian ayah menyusul," kenangnya.
Advertisement