‘Death to the IDF’, Seruan Aktivisme Bela Palestina lewat Festival Musik Glastonbury, Inggris
Seruan, “Death to the IDF” (Kematian untuk IDF) menggema di tengah kerumunan pengunjung festival musik Glastonbury, Inggris. Festival musik ini digelar pada akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu, 28 Juni 2025. Seruan itu lantas memicu reaksi luas dari publik dan komunitas internasional.
Peristiwa ini terjadi saat salah satu musisi di atas panggung menyampaikan kalimat bernuansa politik yang mengkritik agresi militer Israel di Gaza. Musisi tersebut adalah duo rap punk Bob Vylan. Mereka dengan lantang berteriak, “free, free, Palestine”, “death, death to the IDF” dan menyebut “from the river to the sea, Palestine will be inshallah free”.
Slogan-slogan yang dilontarkan Bob Vylan tersebut langsung diikuti oleh para penonton festival. Slogan “death to the IDF,” mengacu pada Israel Defense Forces (IDF), atau Tentara Pertahanan Israel. Selain itu, dalam video festival musik tersebut via Youtube Roya News English, juga terlihat banyak penonton yang mengibarkan bendera Palestina.
Selain Bob Vylan, terdapat juga musisi KNEECAP. Grup hip-hop asal Irlandia Utara yang juga tampil dengan mengenakan atribut dan menyuarakan pesan dukungan untuk Palestina. Ia juga mengkritik imperialisme serta kekerasan militer. Mereka menyebutkan bahwa seniman tidak bisa diam terhadap penderitaan yang disiarkan setiap hari.
Festival yang digelar di kawasan Eropa Barat itu dikenal sebagai ajang musik dan kebebasan berekspresi, namun tahun ini sejumlah musisi memanfaatkan panggung untuk menyampaikan sikap mereka terhadap genosida yang masih berlangsung di Timur Tengah, terutama Gaza, Palestina. Insiden ini menjadi viral di media sosial, dengan video yang memperlihatkan teriakan massa menyebar luas dan menimbulkan perdebatan.
Terkena Sensor BBC
Pada mulanya festival musik ini disiarkan tanpa sensor oleh BBC via livestrem BBC iPlayer. BBC juga sempat memberikan peringatan saat penampilan tersebut mengenai bahasa yang sangat kuat dan diskriminatif. Sayangnya, setelah berlangsung sekitar 40 menit selama siaran, BBC akhirnya menghentikan stream dan menghapus rekaman dari iPlayer.
Berdasarkan keterangan BBC yang dikutip dari APNews, mengatakan bahwa,“menghormati kebebasan berekspresi namun, tetap tegas menentang hasutan untuk melakukan kekerasan”. “Sentimen antisemit yang diungkapkan oleh Bob Vylan sama sekali tidak dapat diterima dan tidak memiliki tempat di siaran udara kami,” kata BBC.
Respon Perdana Menteri Inggris
Seruan yang dilontarkan Bob Vylanpun mendapatan sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. “Tidak ada alasan untuk ujaran kebencian yang mengerikan seperti ini,” kata Starmer dalam The Telegraph Sunday. Ia juga mengecam BBC untuk segera menjelaskan kenapa peristiwa ini dapat disiarkan.
Selain itu, peristiwa ini juga diusut oleh polisi setempat. Mereka akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap peristiwa tersebut, terutama jika terbukti mengarah pada ujaran kebencian atau hasutan kekerasan.
Namun, pihak Festival Musik Glastonbury menekankan bahwa festival ini adalah tempat untuk mengekspresikan diri secara bebas bagi semua orang, dengan berbagai bentuk seni dan budaya yang ditampilkan.
Sementara itu Bobby Vylan, membuat sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial. Ia mengatakan bahwa dirinya dibanjiri pesan dukungan dan kebencian. “Mengajarkan anak-anak kita untuk menyuarakan perubahan yang mereka inginkan dan butuhkan adalah satu-satunya cara untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik,” tulisnya.
Slogan seperti “Death to the IDF” menimbulkan dilema antara kebebasan berekspresi dan batas-batas ujaran kebencian. Meskipun sebagian menganggapnya sebagai simbol perlawanan terhadap kekejaman IDF di Gaza, sebagian lain menilai slogan tersebut bersifat provokatif dan bisa memicu konflik horizontal.
Terlepas dari perdebatan pada festival musik Glastonburry, atas nama kemanusiaan, genosida terhadap rakyat Palestina harus dihentikan. Peristiwa ini menandai meningkatnya tensi politik yang merembes ke ranah budaya pop, dan membuka ruang diskusi mengenai batas antara solidaritas, ekspresi politik, dan tanggung jawab sosial dalam ruang public.
Advertisement