Dokter Ungkap Bahaya Super Flu: Anak-anak dan Lansia Paling Rentan, Bisa Berujung Kematian
Lansia dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan terpapar super flu yang saat ini sedang merebak di Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan dr. Andre Yulius, CEO Andre Medical Center (AMC) Group sekaligus anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo.
Penyakit yang dikenal sebagai Influenza Tipe A subtipe H3N2 ini memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibanding flu biasa.
Menurut dr Andre, istilah super flu digunakan karena penyebaran virus berlangsung sangat agresif, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem dan tidak menentu akibat musim pancaroba yang berkepanjangan.
βDisebut super flu karena penularannya cepat sekali. Gejalanya mirip flu biasa, tetapi lebih berat dan durasinya lebih panjang,β ujar dr Andre saat ditemui Ngopibareng.id di klinik, Jumat, 16 Januari 2026.
Gejala Mirip Flu, Tapi Lebih Berat
Dr Andre menjelaskan, gejala super flu meliputi demam tinggi antara 38 hingga 39 derajat Celsius, bahkan pada beberapa kasus dapat mencapai 42 derajat, disertai batuk kering yang tidak kunjung sembuh, pilek, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa sangat lemas. Demam umumnya berlangsung tiga hingga lima hari, namun bisa lebih lama pada pasien dengan daya tahan tubuh lemah.
βIni influenza tipe A, H3N2. Gejalanya sama seperti flu, tapi lebih ekstrim. Badan meriang, pusing, otot sakit semua, dan panasnya sering tidak turun,β jelasnya.
Data Dinkes Jatim: 62 Kasus Kumulatif, 23 Kasus Aktif
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, secara kumulatif hingga Desember 2025 tercatat 62 kasus super flu dengan lima pasien dilaporkan meninggal dunia. Namun, data tersebut merupakan akumulasi kasus yang terdeteksi dalam periode sebelumnya.
Sementara itu, pembaruan data per 12 Januari 2026 mencatat 23 kasus aktif, dengan 18 di antaranya terkonsentrasi di Kota Malang, menjadikannya wilayah dengan temuan kasus terbanyak saat ini.
Dr Andre menegaskan, angka tersebut kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan, karena tidak semua penderita memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
βYang terdata biasanya yang datang ke rumah sakit atau puskesmas. Di masyarakat, kemungkinan jumlahnya lebih banyak karena banyak yang menganggap ini hanya flu biasa,β katanya.
Anak-anak Berisiko Kejang hingga Kematian
Kelompok anak-anak menjadi perhatian serius. Jika super flu pada anak tidak segera ditangani, demam tinggi dapat memicu kejang, terutama pada anak dengan riwayat kejang sebelumnya. Dalam kondisi tertentu, panas tinggi berisiko menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan meningitis atau radang selaput otak.
βKejang yang tidak tertangani bisa berujung kematian. Ini yang sering diremehkan karena dianggap hanya flu,β tegas dr Andre.
Selain itu, komplikasi lain yang dapat terjadi antara lain dehidrasi berat, gangguan saraf, serta gangguan sistem metabolisme tubuh.
Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang
Dr Andre menjelaskan, langkah pertolongan pertama saat anak mengalami kejang akibat demam tinggi antara lain:
Melepaskan seluruh pakaian anak
Mengompres seluruh tubuh menggunakan air dingin biasa, bukan air es
Memposisikan tubuh miring ke kiri
Mengangkat kedua kaki dan menepuk ringan telapak kaki
Memberikan obat supositoria (melalui anus) seperti diazepam atau ibuprofen sesuai berat badan.
βObat tidak boleh diberikan lewat mulut saat kejang karena berisiko tersedak,β jelasnya.
Lansia dan Anak-anak Paling Rentan
Super flu paling banyak menyerang anak-anak dan lansia, karena sistem imun mereka belum atau tidak lagi sekuat usia produktif. Virus influenza diketahui menyukai kondisi dingin, lembab, dan cuaca tidak stabil, sehingga mudah berkembang di musim pancaroba.
βVirus ini bersifat self-limiting disease. Jika imun tubuh kuat, virus bisa mati dengan sendirinya. Tapi kalau imunnya lemah, virus berkembang cepat,β terang dr Andre.
Pencegahan: Jaga Imunitas dan Pola Hidup
Untuk mencegah penularan super flu, dr Andre mengimbau masyarakat untuk:
Menjaga kehangatan tubuh
Menghindari kehujanan dan suhu ekstrem
Membatasi konsumsi minuman dingin
Memperbanyak minum air hangat
Istirahat cukup dan olahraga ringan
Mengelola stres serta menjaga pikiran tetap positif
βHormon bahagia seperti serotonin bisa meningkatkan sistem imun. Kalau stres dan bad mood, imunitas justru turun,β katanya.
Jangan Remehkan Flu
Dr Andre menegaskan bahwa flu tidak boleh dianggap sepele, karena komplikasinya dapat berujung fatal jika tidak ditangani dengan baik dan cepat. βSegala penyakit yang diremehkan bisa berbahaya. Jika demam tinggi tidak turun-turun, segera ke fasilitas kesehatan,β pungkasnya.
Advertisement