SPPG Kaliwates 3 Jember Kena Sanksi Usai Puluhan Siswa Keracunan, Distribusi Makanan Dihentikan
Kepala SPPG Kaliwates 3, Ahmad Farid Anam, menyampaikan permohonan maaf atas insiden dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan sejumlah siswa mengalami mual dan muntah usai menyantap makanan yang didistribusikan ke sekolah.
Farid mengatakan, pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan adanya siswa yang mengalami keluhan kesehatan pada Rabu, 20 Mei 2026. Tim dari SPPG langsung diterjunkan untuk menjemput para siswa yang mengalami gejala dan membawa mereka ke fasilitas kesehatan.
“Begitu mendapat laporan, kami langsung membagi tim untuk melakukan penanganan. Ada siswa yang langsung kami kirim ke RS Kaliwates dan sebagian ke Puskesmas Jember Kidul,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, seluruh siswa yang mendapatkan penanganan medis dalam kondisi membaik dan tidak ada yang sampai menjalani rawat inap. SPPG juga mengklaim mendampingi seluruh proses pengobatan sejak sore hingga malam hari.
Farid menyebut, seluruh biaya pengobatan siswa yang tidak ditanggung BPJS telah diselesaikan oleh pihak mitra sebagai bentuk tanggung jawab.
“Yang rawat jalan dan tidak memiliki BPJS semuanya kami cover,” katanya.
Dari hasil pemeriksaan internal sementara, Farid mengungkapkan, makanan yang diduga berdampak hanya berasal dari porsi kecil dengan menu ayam suwir bumbu kuning. Sementara porsi besar dengan ayam suwir bumbu merah yang didistribusikan ke dua sekolah lain disebut tidak menimbulkan keluhan.
“Yang terdampak ini porsi kecil. Untuk porsi besar alhamdulillah aman, tidak ada laporan siswa terdampak,” ungkapnya.
SPPG juga telah melakukan pengecekan terhadap makanan sebelum distribusi. Farid mengaku dirinya bersama ahli gizi sudah melakukan uji organoleptik terhadap makanan yang disiapkan dapur MBG tersebut.
Meski demikian, ia menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti munculnya gejala pada para siswa. Sampel makanan kini telah diambil oleh Laboratorium Kesehatan Daerah dan kepolisian untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Yang bisa menjawab hanya hasil laboratorium. Kami minta semua pihak menunggu hasil resmi agar tidak terjadi fitnah,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut terdapat kasus kakak beradik dari satu sekolah, di mana sang adik mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak namun tetap sehat, sementara kakaknya mengalami gejala sakit.
Farid menjelaskan proses memasak makanan dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari. Sedangkan distribusi untuk porsi kecil dilakukan sekitar pukul 07.30 WIB karena siswa penerima pulang lebih awal.
Menu yang dibagikan saat kejadian terdiri dari ayam suwir bumbu kuning untuk porsi kecil, buah jeruk, tahu krispi, dan sayur timun. Sementara untuk porsi besar digunakan ayam suwir bumbu merah.
Akibat insiden tersebut, operasional SPPG Kaliwates 3 kini resmi dihentikan sementara atau disuspensi oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Penghentian distribusi dilakukan sambil menunggu hasil laboratorium keluar.
“Hari ini kami tidak beroperasi dan tidak melakukan distribusi makanan. Status kami sementara disuspensi dari BGN sampai menunggu hasil lab,” katanya.
Farid mengaku pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan makanan dan kedisiplinan dapur agar kejadian serupa tidak terulang.
“Semua koreksi dari satgas, BGN, dan pihak terkait akan menjadi evaluasi bagi kami ke depan supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
SPPG Kaliwates 3 diketahui melayani distribusi makanan bergizi ke 15 sekolah dengan total 2.250 porsi atau ompreng setiap hari. Operasional dapur tersebut melibatkan 47 karyawan dan tiga staf pendukung.
Advertisement