Kurikulum Merdeka: Antara Harapan Besar dan Realita di Lapangan Pendidikan
Oleh : Suprapto
Semua memahami bahwa setiap anak manusia terlahir dengan komoetensi dan kecerdasan yang berbeda-beda. Senyampang dengan nilai-nilai filosofi tersebut muncullah kurikulum merdeka sebagai jawaban atas kondisi tersebut. Selanjutnya muncul kebijakan atas penghapusan Ujian Nasional (UNAS).
Kurikulum Merdeka mengajak Masyarakat untuk beralih dari paradigma lama yang kaku. Publik, terutama orang tua murid dan guru diajak sepakat memahami bahwa anak yang hebat tidak semata-mata yang memiliki nilai koghnitif tinggi di atas kertas. Berawal dari komitmen untuk menghargai keberagaman bakat ini, kebijakan ditiadakannya sistem rangking di kelas pun diterapkan. Hal ini mempunyai tujuan jelas dan lebih manusiawi, yaitu supaya ruang kelas betul-betul menjadi tempat untuk tumbuh kembang ideal, bukan gelanggang kompetisi yang saling mengalahkan, tetapi atrena saling mendukung dan melengkapi.
Tetapi dalam perjalanannya, kita jumpai sebuah paradoks justru muncil dan menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, terutama bagi guru-guru di sekolah/madrasah.
Kebingungan di Akar Rumput
Cukup beralasan ketika publik merasa bingung. Satu sisi narasi agung dari kebijakan pusat yang bermaksud menyuarakan pentingnya pembelajaran yang merdeka, fokus pada proses, pembelajaran berbasis aktifitas. Tetapi di sisi lain, praktek di lapangan seringkali menunjukkan realita yang berseberangan.
Untuk menghindari cap/label kreteria tingkatan kecerdasan anak dengan dihapusnya rangking kelas tetapi di akhir proses belajarnya muncul fenomena pemeringkatan nilai Tes Kemampuan Akademik. Bahkan Pemeringkatan ini bahkan terjadi secara masif, mulai dari tingkat lembaga, kecamatan, kabupaten, hingga skala nasional
Kondisi ini wajar jika membuahkan tanda tanya besar: Mindset seperti apa yang sebenarnya harus diadopsi oleh masyarakat?
Orang tua dan siswa seolah terjebak di persimpangan jalan. Di rapor, anak-anak mereka dinilai berdasarkan narasi perkembangan karakter dan kompetensi uniknya. Namun di luar kelas, mereka kembali disodorkan pada kompetisi angka-angka kognitif yang dikomparasikan secara massal.
Semangat Kurikulum Merdeka seolah-olah hanya berlaku di dalam dokumen, sementara denyut nadi evaluasi di lapangan masih bernapas dengan paru-paru paradigma lama.
Tantangan Menerjemahkan Kebijakan
Realita lapangan ini seharusnya bisa dijadikan refleksi bersama bahwa terdapat mata rantai yang terputus antara perumusan kebijakan di tingkat atas dengan implementasinya di bawah.
Keresahan publik ini bukanlah bentuk penolakan terhadap evaluasi, melainkan sebuah kritik atas ketidaksinkronan sistem. Mengubah kurikulum ternyata jauh lebih mudah daripada mengubah mindset (pola pikir) kolektif. Ekosistem pendidikan kita rupanya masih gagap untuk benar-benar melepaskan diri dari zona nyaman "angka dan peringkat" sebagai tolak ukur tunggal sebuah keberhasilan.
Pemeringkatan TKA yang diekspos sedemikian rupa pada akhirnya kembali mengkerdilkan makna "prestasi". Anak-anak yang memiliki kecerdasan di bidang seni, olahraga, sosial, atau vokasi kembali merasa tertinggal karena lampu sorot dan validasi sistem lagi-lagi hanya diberikan kepada mereka yang unggul secara akademik.
Harapan untuk Penyelarasan
Sebagai sebuah bangsa yang peduli pada masa depan generasinya, kita tentu berharap ada evaluasi dan sinkronisasi yang komprehensif. Kebijakan yang baik harus dibarengi dengan petunjuk teknis dan pengawalan yang konsisten hingga ke tingkat pelaksana paling bawah.
Dinas pendidikan di daerah, pengawas, hingga pihak sekolah perlu duduk bersama untuk kembali meresapi esensi dari Kurikulum Merdeka. Jika kita benar-benar ingin merayakan keberagaman potensi anak bangsa, maka segala bentuk evaluasi massal yang berujung pada pemeringkatan kognitif semata perlu dikaji ulang urgensinya.
Mendidik anak bangsa membutuhkan kejelasan arah. Jangan sampai masyarakat kelelahan karena harus membaca peta kebijakan yang menunjuk ke utara, sementara roda implementasi di lapangan justru melaju ke selatan. Mari kembalikan sekolah menjadi taman yang menyuburkan berbagai jenis tanaman, bukan sekadar pabrik yang mencetak produk-produk seragam.
Penulis: Guru MI Muhammadiyah 7 Kenep, Balen, Bojonegoro
Advertisement