Samarinda: Wajah Ceria dalam Bayang Lara
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, Ph.D.
Dosen Hubungan Internasional,
Universitas Jember.
Perjalanan itu sempat mengguncang angan. Ke kota Samarinda merupakan kunjungan saya yang perdana. Namun, perjalanan kali ini merupakan muhibah saya yang ketiga ke Pulau Kalimantan, setelah kota Banjarmasin dan Kuching, di Serawak, Malaysia. Terlelap sesaat dalam pesawat, angan tergugah kala pesawat merendah guna menapak tanah. Sontak angan terhenyak ketika melihat ke bawah, kerap mendapati bopeng di wajah hutan bumi Kutai ini. Banyak tanah berlobang berwarna kekuningan, kadang terisi air yang menggenang, seperti noda di karpet hijau hutan yang membentang.
Nun jauh di sana, tampak Sungai Mahakam. Sungai terpanjang kedua di Nusantara ini, yang membelah kota Samarinda, meliuk bak seekor naga yang sedang menangguk sinar sang surya. Di sepanjang tubuhnya, tampak bertaburan bintik hitam. Di antaranya, banyak wahana berbentuk kotak berjajar berurutan. Semula, saya pikir itu keramba ikan. Namun setelah mengamati dari dekat, ternyata bukan. Meski pelan, wahana ini bergerak. Setelah pesawat landing, terkonfirmasi bahwa wahana yang lalu-lalang ini adalah tongkang besar pengangkut batubara. Menurut beberapa sumber, sekali angkut setiap tongkang memuat ribuan metrik ton batubara. Konon, nilainya bisa mencapai miliaran. Dengan ratusan tongkang yang beroperasi selama 24 jam, bisa dibayangkan betapa besar volume dan nilai finansial hasil tambang, baik yang legal maupun ilegal.
Angan pun tergerak merajut perbandingan. Ketika terbang ke Kuching, Serawak, wajah bopeng hutan bekas tambang nyaris tak saya temukan, meski wilayah negeri jiran itu sama-sama bagian dari bumi Kalimantan. Sungai Serawak yang membelah kota juga sepi dari lalu-lalang tongkang pengangkut hasil tambang. Perbedaan wajah hutan dan lalu lintas sungai dengan negeri jiran ini bikin gundah angan. Pasalnya, muncul sekian pertanyaan. Apakah bopengnya wajah hutan dan riuhnya tongkang di Sungai Mahakam menunjukkan melimpahnya kekayaan dan gerak industri? Apakah mulusnya wajah hutan di negeri jiran dan sepinya tongkang di Sungai Serawak mencerminkan kekurangan dan mandeknya kehidupan ekonomi? Atau yang terjadi justru sebaliknya—apakah bopengnya hutan dan padatnya tongkang di Sungai Mahakam merupakan cermin eksploitasi alam yang berlebihan sekaligus abai terhadap dampak lingkungan; sedangkan mulusnya wajah hutan kehijauan di negeri jiran, ditambah sunyinya Sungai Serawak dari tongkang yang berseliweran, menyiratkan kehati-hatian dalam pengelolaan hutan demi menjaga keseimbangan ekologi? Entah! Angan hanya bisa merenungkan tanpa gumam.
Mungkin, Sungai Mahakam bisa menjawab tuntas pertanyaan di atas. Sungai yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi itu pantas menjadi saksi. Pasalnya, Sungai Mahakam telah menunjukkan kesabaran yang tak tertandingi terhadap eksploitasi alam lintas zaman. Dalam diam, ia merekam setiap usaha yang melukai alam. Keruh airnya merupakan cermin derita habitat sekitar. Sedimen lumpurnya menandakan luasnya luka bumi akibat kerukan tanah yang menyayat hamparan hutan. Bahkan komunitas di sekitarnya juga bisa memberikan testimoni. Populasi ikan pesut yang terus menyusut merupakan indikasi air Sungai Mahakam tak lagi ramah bagi kelangsungan hidupnya. Seorang kolega bercerita, migrasi komunitas pesut yang tersisa ke hulu adalah upaya mereka menjauhi hilir Mahakam yang semakin terpolusi. Komunitas sosial juga mulai menyoal. Sentimen negatif warga kota terkesan kuat terhadap eksploitasi alam. Pasalnya, kehidupan sehari-hari mereka mulai terusik. Setiap hujan deras, sebagian akses jalan tak bisa dilalui. Dalam perjalanan dari Bandara APT Pranoto ke kota Samarinda, dua orang kolega dari Universitas Mulawarman sempat berkata: “Untung Bapak datang hari ini. Kalau kemarin, akan susah karena sekian akses jalan terendam banjir!”
Meski dibayangi suasana hati yang buram, Samarinda masih punya wajah ceria. Tiga hari di Kota Tepian ini, perjumpaan dengan berbagai kalangan dan perjamuan dengan kolega dari Universitas Mulawarman meninggalkan kesan mendalam. Kisah tentang wajah sosial-budaya membuat angan menjadi lega, bak galah setelah lama menahan dahaga. Yang pertama, menyangkut komposisi sosialnya. Yang unik, kota Samarinda dihuni beragam etnik. Selain etnis lokal seperti suku Kutai, Dayak, dan Banjar, kota ini juga didiami suku pendatang, antara lain Jawa, Bugis, Toraja, Sunda, Minang, Bajo, Madura, bahkan Arab dan Tionghoa. Namun, tak satu pun dari entitas sosial ini yang dominan. Walhasil, “Secara budaya, kota Samarinda merupakan melting pot area!” tukas seorang kolega.
Kedua adalah wajah kulinernya. Ragam budaya tercermin dalam jenis makanan yang disajikan. Citarasa dan tautan etniknya berpotensi punya nilai gastronomi tinggi. Bahkan, yang menarik, kuliner lokal unggulan mencerminkan keseimbangan asal makanan, baik dari sungai, laut, maupun daratan. Sedapnya palumara ikan Kakap Merah ala Makassar tak kalah dengan Tomyam Thailand. Meresapnya bumbu ikan bakar Trakulu ala Banjar juga tak kalah dibandingkan aroma daging bakar barbeque Australia. Lidah akan semakin termanjakan bila mencicipi lezatnya pepes ikan patin dan berbagai jenis seafood. Apalagi jika dilengkapi dengan Nasi Kuning Bumbu Habang dan Ayam Goreng Banjar. Belum lagi tersedia gangan waluh atau gangan labu yang dengan taburan kuah santan siap menyegarkan kerongkongan. Imbangnya asal makanan unggulan di tingkat lokal ini bisa menjadi inspirasi bagi para elite negeri ini. Angan pun tergerak untuk mengungkap kembali refleksi bersama tim peneliti gastrodiplomasi Universitas Jember. Substansinya bahkan pernah disampaikan secara langsung kepada Menteri Pariwisata. Intinya bernada tanya: “Jika memang Indonesia ingin mengukuhkan identitasnya sebagai negara maritim, mengapa lima ikon makanan unggulan Indonesia (Nasi Goreng, Rendang, Sate, Soto, dan Gado-Gado) semuanya berasal dari daratan dan tak satu pun yang mewakili lautan?”
Dengan variasi makanan unggulan yang dimilikinya, yang bertaut erat dengan ragam etnik penghuninya, Samarinda layak menegaskan identitasnya. Angan kembali terdorong meracik perbandingan dengan negeri jiran. Jika Malaysia, dengan komposisi sosial yang hanya terdiri dari tiga ras—Melayu, China, dan India—punya tagline: “Malaysia: Truly Asia”; maka kota Samarinda, dengan multi-etnisnya, layak menyandang tagline senada, namun dengan substansi berbeda: “Samarinda: Truly Nusantara!”
Yang terakhir adalah wajah pariwisatanya. Samarinda dan sekitarnya, konon, punya beberapa destinasi wisata. Di area kota saja, terdapat beberapa bangunan ikonik sekaligus photogenic. Di antaranya, Islamic Centre yang luas nan anggun. Arsitektur kubahnya mirip kubah masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki, sedangkan lorongnya mengingatkan bangunan di Alhambra, Andalusia, Spanyol. Selain sebagai sarana ibadah kaum Muslim, Islamic Centre ini juga menjadi pusat peradaban dan wisata religi. Di tengah kota juga berdiri Katedral yang megah. Arsitekturnya bernuansa Gothic Eropa klasik dengan sentuhan lokal Dayak, lengkap dengan ornamen reniknya. Selain itu, ada pula Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Samarinda (dibangun tahun 1881), beserta cerita historis dan narasi misterinya. Tak ketinggalan pula sekian sentra suvenir. Salah satunya Pasar Citra Niaga, yang menyediakan aneka suvenir murah bernuansa etnik.
Yang paling mengasyikkan adalah menyusuri Sungai Mahakam. Pulang-pergi, wisata sungai ini memakan waktu dua jam. Memasuki senja, kapal wisata Pesut Bentong bertolak meninggalkan dermaga Hilir Mahakam. Harapannya, bisa menikmati matahari terbenam dari anjungan kapal. Selama perjalanan, anjungan menjadi viewpoint pemandangan yang kedap dari rasa bosan. Sekian ikon wisata bisa dipandang karena posisinya memang di tepian, seperti Islamic Centre dan Masjid Shiratal Mustaqiem. Selain itu, terdapat Teras Samarinda, tempat pentas seni sekaligus ruang publik guna menikmati panorama Sungai Mahakam. Ada pula Kampung Ketupat, yang sampai kini warganya masih rajin merawat tradisi membuat ketupat. Sudut lain menawarkan panorama tepian sungai. Sederetan rumah panggung tradisional berjajar, berdiri kokoh dengan kaki menghunjam dasar sungai; punggungnya seakan bersandar pada tebing yang rimbun kehijauan. Dari obrolan di anjungan bertiup kabar menggembirakan. Seorang dosen pariwisata mengemukakan: “Ada rencana untuk menghubungkan berbagai titik destinasi wisata di sungai ini.” Sebuah gagasan yang bukan hanya kreatif, tapi juga responsif. Pasalnya, kini tren wisata tengah berubah; bukan lagi sekadar sight-seeing, melainkan juga menginginkan experiencing. Jika rencana tersebut terwujud, wisatawan tak lagi sekadar memandang dari jauh Kampung Ketupat, tetapi bisa belajar sendiri membuat ketupat.
Kala petang menyaput Mahakam, wajah ceria Samarinda juga tak padam. Dalam temaram malam, sorot lampu semarak menghiasi kota. Tak pelak, bangunan ikonik seperti Islamic Centre dan kantor Gubernur tampak bercahaya. Ketika kapal melintas di bawah Jembatan Mahakam yang menghubungkan pusat kota dengan Samarinda Seberang, banyak penumpang lalu-lalang di anjungan. Mereka sibuk memilih posisi strategis guna berfoto dengan latar belakang Jembatan Mahakam. Pasalnya, dengan kerlip lampu warna-warni yang menghiasinya, jembatan tampak cantik bak Juwita Malam. Angan kembali tergoda melakukan komparasi. Perjalanan wisata Sungai Mahakam tampak lebih baik, setidaknya tak kalah menarik, dibandingkan pengalaman menyusuri Sungai Serawak dengan latar belakang kota Kuching di Malaysia.
Keceriaan beruntun di atas terinterupsi sejenak karena memori yang menyeruak. Kala studi di Australia, terpetik pelajaran berharga. Ketika ekskursi ke reservoir di Mount Lofty, salah satu sumber yang menyuplai kebutuhan air bersih kota Adelaide, sempat berbincang dengan seorang ahli lingkungan. Dalam sepenggal penegasan menyangkut masalah lingkungan, ia menandaskan: “Kami, di Australia, selalu mengkalkulasi daya sangga lingkungan, termasuk ketercukupan air bersih, demi mempertahankan kualitas kehidupan kami. Bahkan jumlah penduduk kami yang hanya di kisaran 20 jutaan, meski wilayah Australia sangat luas, tak lepas dari kalkulasi ekologi. Pasalnya, bertambahnya penduduk pasti berpotensi menganggu keseimbangan ekologi yang pada gilirannya akan menurunkan kualitas kehidupan kami.”
Dalam angan, gundah menerpa perlahan. “Apakah eksplorasi alam di sekitar Sungai Mahakam juga dilandasi kalkulasi daya sangga lingkungan?” Entah! Angan sekali lagi hanya bisa bertanya tanpa kata. Yang pasti, hati tak rela jika wajah ceria kota Samarinda terhenti gara-gara lara akibat runtuhnya keseimbangan ekologi. Wallahu a’lam.
Advertisement