Tiga Pelari Prancis Kampanyekan Sungai Bebas Sampah di Blora
Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib, tiga bersaudara asal Prancis yang dikenal aktif dalam kampanye lingkungan, tiba di wilayah Cepu, Kabupaten Blora, dalam rangkaian aksi "Run for River", 23 April 2026 sore.
Misi utama mereka mengkampanyekan sungai tanpa sampah dan menyelamatkan ekosistem perairan. Agenda utama aksi ini berlangsung pada hari Jumat 24 April 2026, Sejak pagi hari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, ketiga pelari tersebut mengawali hari dengan aktivitas lari menyusuri rute yang telah ditentukan.
βPuncak aksi lingkungan dilakukan pada pukul 09.30 WIB di Embung Lebok. Bencheghib bersaudara bersama bersama masyarakat setempat melaksanakan kegiatan Clean Up (bersih-bersih) dan penanaman pohon.
Untuk diketahui, ketiganya menempuh jarak 25 hingga 30 kilometer setiap hari dengan rute menyusuri kota-kota di Pulau Jawa.
Menurut Sam, berlari memungkinkan mereka berdialog langsung dengan masyarakat di tepi jalan, di pasar, hingga di bantaran sungai.
"Ini bukan sekadar perjalanan olahraga. Ini adalah cara kami mengajak masyarakat untuk sadar bahwa sungai yang bersih adalah tanggung jawab bersama. Indonesia sudah menjadi rumah kedua bagi kami, jadi kami merasa terpanggil untuk ikut menjaga," ujar Sam dalam kesempatan singgah di pendopo Kecamatan Cepu, Kamis 23 April 2026 malam.
Perhatian utama gerakan Run River difokuskan di Sungai wilayah Cepu. Para pelari bersama komunitas lokal dan aparat desa melakukan aksi bersih-bersih sungai dari sampah plastik, botol bekas, hingga limbah rumah tangga.
Tak berhenti di situ, sebanyak 100 bibit pohon yang terdiri dari ketapang kencana, alpukat aligator, hingga trembesi ditanam di kawasan Embung Lebok sebagai upaya penghijauan dan konservasi daerah aliran sungai (DAS).
"Penanaman pohon ini penting untuk mencegah erosi dan menjaga debit air, sehingga sampah tidak mudah terbawa arus ke laut," kata Gerry, salah satu pelari yang juga aktif dalam kampanye pengurangan sampah plastik.
Gerry mengungkap fakta mencengangkan. Sekitar 80 persen sampah yang mencemari lautan di Indonesia berasal dari aliran sungai, yang kemudian terbawa banjir bandang atau arus sungai hingga ke pesisir dan bahkan ke negara tetangga seperti Australia dan Malaysia.
"Sampah plastik yang dibuang ke sungai hari ini, suatu saat bisa ditemukan di perairan asing. Ini bukan masalah lokal, tapi persoalan global yang harus diatasi dari hulu," tegas Gerry.
Perjalanan yang telah memasuki hari ke-27 sejak dimulai dari Bali itu sudah menempuh total sekitar 600 kilometer. Rute berikutnya akan dilanjutkan ke Pendopo, Randublatung, kawasan Bledug Kuwu, hingga Grobogan, sebelum akhirnya finis di Jakarta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora, Istadi Rusmanto, menyatakan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut.
Pemerintah daerah akan mengawal perjalanan ketiga pelari selama melintasi wilayah Blora dan berkoordinasi dengan dinas terkait di daerah tujuan.
"Kami melihat gerakan ini sangat positif. Tidak hanya mengampanyekan, tetapi juga memberi contoh nyata melalui aksi bersih sungai dan penanaman pohon. Ini sejalan dengan program kami di Blora," ujar Istadi.
Gerakan Run River diharapkan tidak berhenti sebagai aksi sesaat. Para pelari mengajak masyarakat dan pemerintah daerah untuk meniru model kampanye serupa, misalnya melalui komunitas lari peduli sungai atau program adopsi DAS.
"Siapa pun bisa berkontribusi. Tidak harus lari sejauh kami. Mulailah dengan tidak membuang sampah ke sungai," pesan Sam.
Advertisement